Senin, 14 Mei 2012

Sejarah Dakwah Nabi Muhammad SAW



1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil).
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdakwah ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah:
۞    Abdul Amar dari Bani Zuhrah
۞    Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris
۞    Utsman bin Affan
۞    Zubair bin Awam
۞    Sa’ad bin Abu Waqqas
۞    Thalhah bin Ubaidillah.
Orang-orang yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi,yang namanya sudah disebutkan d atas disebut Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).
2. Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.
Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:
1.     Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
2.     Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.
Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dari kalangan kaum kafir Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) dan Umar bin Khattab. Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian, sedangkan Umar bin Khattab (581-644 M).
Rasulullah SAW menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam antara lain:
۞    Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar.
۞    Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus.
۞    Dakwah Rasulullah SAW terhadap penduduk Yastrib (Madinah). Gelombang pertama tahun 620 M, telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang kedua tahun 621 M, sebanyak 13 orang, dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak lagi. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah.
Pertemuan umat Islam Yatsrib dengan Rasulullah SAW pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah. Isi Bai’atul Aqabah tersebut merupakan pernyataan umat Islam Yatsrib bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah SAW. Selain itu, mereka memohon kepada Rasulullah SAW dan para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrib.
3. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW
Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:
1.     Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.
2.     Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
3.     Kaum kafir Quraisy menilak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.
4.     Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.
Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:
۞    Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perikemanusiaan.
۞    Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam menganut agama kamu kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.
Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.
Suatu saat keenam belas orang tersebut kembali ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk Islamnya salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.
Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.
Pada tahun ke-10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat hari setelah itu istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita).

Reaksi Masyarakat Mekah Terhadap Nabi Muhammad



Rasulullah bangun melaksanakan tugasnya itu dan membongkar khurafat-khurafat syirik dan kepalsuannya. Rasulullah memperingatkan hakikat berhala-berhala yang mereka sembah itu yang ketiadaan nilai sedikit pun. Baginda mendedahkan kekosongan fungsinya dengan contoh-contoh sebagai pendekatan. Baginda menjelaskan dengan kenyataan-kenyataan, di mana para pemimpin yang dianggap sebagai perantaraan menghubungkan mereka dengan Allah adalah kerja-kerja yang sia-sia dan sesat semata-mata. Seluruh Makkah menjadi berang dan marah, merasakan satu kepelikan dan aneh seterusnya membantah dan memprotes terhadap tuduhan dan ancaman yang menganggap orang musyrikin dan penyembahan berhala sebagai sesat, tuduhan itu dianggap melulu bak halilintar berdentum di celah mendung langit, menggegar suasana yang penuh kedamaian. Kaum Quraisy bangun serentak untuk menyekat satu revolusi yang muncul dengan tiba-tiba, mereka curiga ianya akan melenyap dan meranapkan budaya hidup yang mereka warisi selama ini.
Mereka bangun serentak, kerana mereka mengetahui dengan pasti bahawa “beriman” itu ertinya menafi seluruh tuhan selain dari Allah. Beriman dengan risalah Muhammad dengan hari Akhirat bererti penyerahan total dan pengakuan yang mutlak, dengan ertikata mereka sudah tidak mempunyai sebarang pilihan lagi pada diri mereka mahupun pada harta mereka lebih-lebih lagi terhadap orang lain. Ini juga bermakna penafian kekuasaan dan kelebihan mereka ke atas bangsa Arab atas nama agama. Kerana mereka enggan melaksanakan kehendak Allah dan RasulNya, sanggup mempertahankan penganiayaan yang mereka lakukan selama ini terhadap lapisan bawahan mereka, berkeras untuk meneruskan kejahatan yang mereka sudah berbudaya dengannya pagi dan petang, mereka arif kesemua perilaku yang memalukan ini, maka itulah yang menyebabkan jiwa mereka enggan untuk menerima risalah Muhammad (s.a.w), untuk kebaikan dan kemuliaan, tetapi sebaliknya rela untuk meneruskan kejahatan seperti firman Allah:
“Bahkan manusia menghendaki untuk terus berjahat di masa yang akan datang”.
(al-Qiyaamah: 5)
Mereka sedar semuanya ini, tetapi apakah yang akan mereka lakukan berhadapan dengan lelaki yang benar dan beramanah ini, yang merupakan contoh ideal kepada akhlak mulia dan kemanusiaan yang sempurna, selama ini mereka belum pernah menemui satu contoh dan bandingan seperti Muhammad s.a.w ini disepanjang sejarah mereka dan sejarah ibu bapa mereka. Apakah yang akan mereka lakukan? Mereka sebenarnya kebingungan dan memanglah wajar mereka kebingungan.
Setelah menilik pemikiran mereka sematang-matangnya, didapati tiada jalan lain selain dari menemui bapa saudaranya Abu Talib, mereka akan meminta jasa baik Abu Talib supaya menghalang anak saudaranya itu, dari meneruskan tindakan memperlecehkan berhala-berhala mereka, untuk mengemaskan tuntutan mereka itu, mereka akan mendakwa: Bahawa tindakan dan seruan untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka, di samping menyatakan ketiadaan sebarang faedah atau sebarang daya pun bagi berhala-berhala itu, adalah satu penghinaan dan merendah-rendahkan nenek moyang mereka yang mewarisi agama ini. Sebaik sahaja mereka dapat idea ini terns mereka berhadapan dengan Abu Talib.
PERWAKILAN QURAISY MENEMUI ABU TALIB
Ibnu Ishak meriwayatkan; tokoh-tokoh pemuka Quraisy bergerak menemui Abu Talib dan mereka bersuara: Wahai Abu Talib, sebenarnya anak saudaramu itu telah mencela tuhan-tuhan kita, memperbodohkan agama pegangan kita, memperkecilkan pemikiran kita dan mendakwa datuk nenek kita dalam kesesatan. Di sini kami menuntut samada kamu berhentikannya dari kata-katanya itu, atau berikan kami laluan untuk kami buat perhitungan dengannya. Kamu pun sama dengan kami juga, tidak mempersetujuinya, ayuh kita bersama-sama menghalangnya. D sini Abu Talib menjawab kepada mereka dengan kata-kata yang lunak dan jawapannya pun bermuslihat, dengan itu mereka semua pulang, sedang Rasulullah kekal dengan usahanya itu mengembang agama Allah dan menyeru kepadanya.
MAJLIS PERMESYUARATAN BERSIDANG UNTUK MENCEGAH JEMAAH HAJI DARI MENDENGAR SERUAN RASULULLAH
Di dalam tempoh hari-hari ini, timbul satu perkara baru yang merunsingkan Quraisy kerana musim haji pun sudah tidak berapa bulan lagi, sedang dakwah secara terang-terangan mula mengorak langkahnya. Rombongan haji tidak lama lagi akan tiba, mereka harus ada satu kata-kata sakti mengenai diri Muhammad (s.a.w) yang mampu menghalang dakwahnya daripada mempengaruhijiwa bangsa Arab. Dengan itu mereka berkumpul bersama al-Walid Ibn al-Munghirah, membentuk kata-kata sakti itu, maka kata al-Walid: Kamu harus bersatu danjangan ada di antara kamu yang berselisih atau mendusta antara satu sama lain, atau ada yang menolak pendapat orang lain, maka mereka semua sekata. Ayuh kamu yang kemukakan. Lalu mereka menyebut: Kita katakan dia seseorang sami, jawab al-Walid: Demi Allah dia bukan seorang sami, semua kita pernah melihat sami-sami, kata-katanya itu bukan kata-kata sami atau gurindamnya. Kata mereka: Jadi kita “katakan dia gila”, kata al-Walid: Dia tidak gila, kan semua kita pernah tengok orang gila dan kita kenalinya, cakapnya bukan repekan, “dia seorang penyair” kata al-Walid:
Tidak dia bukan penyair, sebab semua kita kenalijenis-jenis syair, sama ada yang berbentuk raj 07. atau hazajnya., kata-katanya itu bukan syair, maka kata mereka: Kalau itu pun tidak kita katakan, beliau tukang sihir. Kata al-Walid: Sihir pun bukan sebab semua kita mengenali sihir itu, kata-katanya itu bukan mentera ataujampi sihir, maka kata mereka: Kalau semuanya ini tidak maka apa yang hendak kita kata: Maka al-Walid pun berkata :
“Demi Allah kata-katanya itu begitu manis, bagai sepohon pokok bawahannya sangatsubur, cabangnya berbuah, cakap-cakap kamu semua itu karutbelaka, paling hampir sekali kamu berkata dia seorang ahli sihir kerana kata-katanya itu memukaukan, kata-katanya itu adalah sihir yang boleh memecah belahkan di antara seseordng dengan ayahnya atau saudaranya atau isteri atau dengan seluruh keluarganya, oleh itu hindarlah din kamu darinya ” Sesetengah riwayat mengatakan bahawa al-Walid setelah menolak semua bentuk cadangan pemuka-pemuka Quraisy tadi, beliau telah dipinta, dengan kata mereka: Cuba kamu tunjukkan kepada kami satu pendapat yang kemas dan tidak boleh diperbodohkan, jawab al-Walid kepada mereka: Berilah kepada aku tempoh untuk ku berfikir. Dengan itu al-Walid pun cuba berfikir dan berfikir, akhirnya beliau kemukakan pendapat tadi.
Allah s.w.t mendedahkan kisah al-Walid itu di dalam surah al-Muddasir sebanyak tujuh ayat:
Kerana sesungguhnya ia telah memikirkan dan mereka-reka berbagai tuduhan terhadap Al-Quran.
Maka binasalah dia hendaknya! Bagaimanakah dia berani mereka-reka (yang demikian)?
Sekali lagi: binasalah dia hendaknya! Bagaimana ia berani mereka-reka (tuduhan-tuduhan itu)?
Kemudian ia merenung dan memikirkan (berkali-kali: jalan-jalan mencaci Al-Quran, tetapi ia gagal);
Setelah itu ia memasamkan mukanya serta ia bertambah masam berkerut;
Kemudian ia berpaling (dari kebenaran) dan berlaku sombong angkuh,
Serta ia berkata: ” (Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dituntut serta dipelajari (dari ahli-ahlinya);
“Ini tidak lain hanyalah kata-kata (rekaan) manusia!”
(Al-Muddaththir 18-25)
Setelah majlis permesyuaratan bersetuju untuk menerima pakai cadangan al-Walid, maka semua mereka mengawal pintu masuk orang-orang haji di musim itu, tak seorang pun yang tidak diberi maklumat yangjahat itu, malah kesemua mereka menerima peringatan dari pemuka-pemuka Quraisy.
Yang melaksanakan tugas jahanam itu ialah Abu Lahab, kerana apabila Rasulullah mengikuti sesetengah orang di musim itu ke kediaman mereka, ke pasar Ukaz, Mijannah dan Zul Majaz untuk mendakwah mereka ke agamanya, Abu Lahab akan mengekori dari belakangnya dan memberi tahu kepada mereka: Jangan kamu percaya dia, dianya seorang yang sudah keluar agama serta mendusta.
Hal ini menyebabkan apabila orang-orang Arab balik dari haji, mereka menyebarkan kisahnya di seluruh pelusuk bumi Arab.